SELAMAT DATANG DI VENDI STORE

ILMU MAKKIYAH DAN ILMU MADANIYYAH



A. PENGERTIAN MAKIYYAH DAN MADANIYYAH

Para sarjana Muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminology. Makkiyyah dan Madaniyyah.Keempat perspektif itu adalah masa turun (Zaman An-Nuzul), tempat turun (Makan an-Nuzul) objek pembicaraan (Mukhathab), dan tema pembicaraan (Maudu).
Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminology di atas sebagai berikut:
Artinya:
“Makiyyha ialah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah. Madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah.”
Dengan demikian, surat An-Nisa [4]: 58 termasuk kategori Madaniyyah kendatipun diturunkan di Mekkah, yaitu pada peristiwa terbukanya Kota Makkah (Fath al-Makkah). Begitu pula surat Al-Maidah [5]:3 termasuk kategori Madaniyyah kendatipun tidak diturunkan di Madinah, karena ayat itu diturunkan pada peristiwa haji wada.
Bunyi surat An-Nisa’ :[4]: 58 yang sudah di jelaskan diatas yaitu sebagai berikut:
• •• • •
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. An-Nisa’ : [4]: 58).
Bunyi surat Al-Maidah sebagai berikut:
Artinya:
(Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Ku-ridai islam itu jadi agama bagimu). (Q.S AL-Maidah:3).
Pendefinisian di atas memiliki kelemahan sebab terdapat ayat-ayat tertentu, yang tidak diturunkan di mekah, Madinah, dan sekitarnya. Umpamanya surat at-Taubah:42 diturunkan di Tabuk, surat Az-Zukharuf:45 diturunkan di Bait Al-Muqadas dan surat Al-Fath diturunkan di tengah perjalanan antara Mekkah dan Madinah. Jika melihat definisi kedua, ketiga ayat diatas, tidak dapat dikategorikan ke dalam Makyyah dan Madaniyyah.
Dari perspektif objek pembicaraan, mereka mendefinisikan ke dua terminology di atas sebagai berikut.
Artinya: “Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Mekkah, sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Madaniyyah.”
Pendefinisian di atas dirumuskan para sarjana muslim berdasarkan asumsi bahwa kebanyakan ayat Al-Qur’an di mulai dengan ungkapan yaa ayyuhan-naas yang menjadi kriteria Makkiyah, dan ungkapan yaa ayyuha al-ladziina yang menjadi kriteria Madaniyyah. Namun, tidak selamanya asumsi ini benar. Surat Al-Baqoroh , umpamanya termasuk kategori Madaniyyah padahal di dalamnya terdapat salah satu ayat, yaitu ayat 21 dan ayat 168 yang dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha annaas. Lagi pula banyak juga ayat Al-Qur’an yang tidak di mulai dengan kedua ungkapan tersebut.
Adapun pendefinisian Makkiyah dan Madaniyyah dari perspektif tema pembicaraan akan di singgung lebih terinci dalam uraian karakteristik kedua klasifikasi tersebut.
Kendatipun mengunggulkan pendefinisian Makkiyah dan Madaniyyah dari perspektif masa turun, Subhi Shalih melihat komponen –komponen serupa dalam tiga pendefinisian di atas. Pada ketiga versi itu terkadang komponen masa tempat dan orang. Bukti lebih lanjut dari tesis Shali dapat dilihat dalam kasus surat Al-Mumtahannah [60]. Bila dilihat dari perspektif tempat turun, surat itu termasuk Madaniyyah karena diturunkan sesudah terjadinya peristiwa hijrah. Akan tetapi, dalam perspektif objek pembicaraan, surat itu termasuk Makiyyah karena menjadi kitab bagi orang-orang Mekkah. Oleh karena itu, para sarjana muslim memasukan surat itu kedalam Mamuzila bi al-Madinah wa hukmuhu Makki (ayat-ayat yang di turunkan di Madinah, sedangkan muatan hukumnya termasuk ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah).
B. CARA MENGETAHUI MAKKIYAH DAN MADANIYYAH
Dalam menetapkan ayat-ayat Al-Qur’an yang termasuk kategori Makiyyah dan Madaniyyah para sarjana muslim berpegang teguh pada dua perangkat pendekatan berikut ini.
1. Pendekatan Transmisi (periwayatan)
Dengan perangkat pendekatan transmisi, para sarjana muslim merujuk pada riwayat-riwayat valid yang berasal dari para sahabat yaitu orang-orang yang besar kemungkinannya menyaksikan turunnya wahyu, atau para generasi tabi’in yang saling berjumpa dan mendengar langsung dari para sahabat tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan proses kewahyuan Al-Qur’an, termasuk di dalamnya adalah informasi kronologis Al-Qur’an.
2. Pendekatan analogi (Qiyas)
Ketika melakukan kategoris Makiyyah dan Madaniyyah, para sarjana muslim penganut pendekatan analogi bertolak dari cirri-ciri spesifik dari kedua klasifikasi itu. Dengan demikian, bila dalam surat Makiyyah terdapat sebuah ayat yang memiliki ciri-ciri khusus Madaniyyah, ayat ini termasuk kategori ayat Madaniyyah. Tentu saja para ulama telah menetapkan tema-tema sentral yang nantinya ditetapkan pula sebagai cirri-ciri khusus bagi kedua klasifikasi itu, umpamanya mereka menetapkan tema kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai cirri khusus Makiyyah; dan tema menetapkan farai’idh dan ketentuan hadd sebagai cirri khusus Madaniyyah.
C. CIRI-CIRI SPESIFIK MAKKIYAH DAN MADANIYYAH
Seperti telah di uraikan di atas, para sarjana muslim telah berusaha merumuskan cirri-ciri spesifik Makkiyah dan Madaniyyah dalam menguraikan kronologi Al-Qur’an. Mereka mengajukan dua titik tekan dalam usahanya itu, yaitu titik tekan analogi dan titik tekan tematis. Dari titik tekan pertama, mereka memformulasikan cirri-ciri khusus Makkiyah dan Madaniyyah sebagai berikut:
1. Makkiyah
a. Didalamnya terdapat ayat sajjadah
b. Ayat-ayatnya dimulai dengan kata kalla
c. Dimulai dengan ungkapan ya ayyuha an-naas dan tidak ada ayat yang dimulai dengan ungkapan ya ayyuhal ladzina, kecuali dalam surat al-Hajj [22] karena di penghujung surat itu terdapat sebuah ayat yang di mulai dengan ungkapan yaa ayyuha al-ladziina
d. Ayat-ayatnya mengandung kisah Nabi Adam dan Iblis, kecuali surat Al-Baqarah [2]
e. Ayat-ayatnya di mulai dengan huruf-huruf terpotong-potong (huruf at-tahajji) seperti alif lam mim dan sebagainya, kecuali surat al-Baqarah [2]2 dan ali- Imran [3].
2. Madaniyyah
a. Mengandung ketentuan-ketentuan fara’idh dan had
b. Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik, kecuali surat al-ankabut [29]
c. Mengandung uraian tentang perdebatan dengan Ahli Kitab.
Sedangkan berdasarkan titik teakan tematis, para ulama merumuskan cirri-ciri spesifik Makkiyah dan Madaniyyah sebagai berikut:
1. Makkiyah
a. Menjelaskan ajakan Monotheisme, ibadah kepada Allah semata, penetapan risalah kenabian, penetapan hari kebangkitan dan pembalasan, uraian tentang kiamat dan perihalnya, neraka dan siksaannya, surge dan kenikmatannya, dan mendebat kelompok musyrikini dengan argumentasi-argumentasi rasional dan naqli
b. Menetapkan fondasi-fondasi umum bagi pembentukan hukum syara’ dan keutamaan akhlak yang dimiliki anggota masyarakat.
c. Menuturkan kisah Nabi dan umat-umat terdahulu serta perjuangan Muhammad dalam menghadapi tantangan-tantangan kelompok musyrikin.
d. Banyak mengandung kata-kata sumpah
2. Madaniyyah
a. Menjelaskan permasalahan ibadah, muamalah, hudud, bangunan rumah tangga, aturan-aturan pemerintah menangani perdamaian dan peperangan, serta persoalan-persoalan pembentukan hukum syara’
b. Mengkhitabi Ahli Kitab Yahudi dan Nasrani dan mengajaknya masuk islam, menguraikan perbuatan mereka yang telah menyimpangkan Kitab Allah dan menjauhi kebenaran serta perselisihannya setelah datang kebenaran.
c. Mengungkap langkah-langkah orang-orang munafik
d. Surat dan sebagian ayatnya panjang serta menjelaskan hukum secara jelas dan menggunakan ushlub yang jelas pula.
Cirri-ciri spesifik yang dimiliki Madaniyyah, baik dilihat dari perspektif analogi ataupun tematis, memperlihatkan langkah-langkah yang ditempuh Islam dalam mensyariatkan peraturan-peraturanya, yaitu dengan cara periodic hirarkis.
Laporan-laporan sejarah telah membuktikan adanya system sosio cultural yang berbeda antara Mekkah dan Madinah. Mekkah di huni komunitas ateis yang keras kepala dengan aksinya yang selalu menghalangi dakwah Nabi dan para sahabatnya, sedangkan Madinah setelah Nabi hijrah ke sana terdapat tiga komunitas, Komunitas muslim yang terdiri atas kelompok Muhajirin dan anshar, komunitas cultural antara kedua tempat itu. Oleh karena itu, alur pembicaraan ayat yang diturunkan bagi penghuni Mekkah sangat berbeda dengan alur yang diturunkan bagi penduduk Madinah.
D. KLASIFIKASI AYAT DAN SURAT AL-QUR’AN
Menurut edisi standar Mesir, 86 surat termasuk dalam periode Mekkah, sedangkan 28 surat lainnya berasal dari periode Madinah. Dasar determinasi kronologis ini adalah permulaan surat. Sebuah surat, misalnya dianggap dari Mekkah jika ayat awalnya diturunkan di Mekkah, meskipun berisi juga ayat-ayat yang diturunkan di Madinah. Terkadang ada juga perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin mengenai apakah ini termasuk Makkiyah dan Madaniyyah.
Tidaklah mengejutkan jika prinsip klasifikasi yang di terapkan kaum muslimin dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Perbedaan kesimpulan ini lebih besar di temukan jika di bandingkan dengan yang di simpulkan oleh para sarjana Barat.
E. URGENSI PENGETAHUAN TENTANG MAKKIYYAH DAN MADANIYYAH
An-Naisaburi dalam kitabnya at-tanbih ‘ala fadhl ‘ulum al-Qur’an, memandang subjek Makkiyah dan Madaniyyah sebagai ilmu Al-Qur’an yang paling utama. Sementara itu, Manna’ Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskripsikan urgensi mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah sebagai berikut:
1. Membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an
Pengetahuan tentang para mufasir dalam peristiwa di seputar turunnya Al-Qur’an tentu sangat membantu memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an , kendatipun ada teori yang mengatakan bahwa keumuman redaksi ayat yang harus menjadi patokan dan bukti kekhususan sebab. Dengan mengetahi kronologis Al-Qur’an pula seorang mufasir dapat memecahkan makna kontradiktif dalam dua ayat yang berbeda, yaitu dengan pemecahan konsep Nasikh-mansukh yang hanya dapat di ketahui kronologi Al-Qur’an.
2. Pedoman bagi langkah-langkah dakwah
Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan yang relevan. Ungkapan dan intonasi berbeda yang digunakan ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat Madaniyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan orang yang di serunya. Karena itu, dakwah islam berhasil mengetuk hati dan menyembuhkan segala penyakit rohani orang-orang yang diserunay. Disamping itu, setiap langkah dakwah memiliki objek kajian dan metode tertentu, seiring dengan perbedaan kondisi sosio-kultural manusia.
3. Memberi informasi tentang sirah kenabian
Penahanan turunnya wahyuy adalah seiring dengan perjalanan dakwah Nabi, baik di Mekkah ataupun di Madinah. Melalui diturunkannya wahyu pertama sampai di turunkannya wahyu terakhir. Al-Qur’an adalah rujukan otentik bagi perjalanan dakwah Nabi itu. Informasinya sudah tidak dapat diragukan lagi bagi kita.
BAB III
KESIMPULAN
Cirri-ciri khusus Makkiyah dan Madaniyyah sebagai berikut:
1. Makkiyah
• Didalamnya terdapat ayat sajjadah
• Ayat-ayatnya dimulai dengan kata kalla
• Dimulai dengan ungkapan ya ayyuha an-naas dan tidak ada ayat yang dimulai dengan ungkapan ya ayyuhal ladzina, kecuali dalam surat al-Hajj [22] karena di penghujung surat itu terdapat sebuah ayat yang di mulai dengan ungkapan yaa ayyuha al-ladziina
• Ayat-ayatnya mengandung kisah Nabi Adam dan Iblis, kecuali surat Al-Baqarah [2]
• Ayat-ayatnya di mulai dengan huruf-huruf terpotong-potong (huruf at-tahajji) seperti alif lam mim dan sebagainya, kecuali surat al-Baqarah [2]2 dan ali- Imran [3].
2. Madaniyyah
• Mengandung ketentuan-ketentuan fara’idh dan had
• Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik, kecuali surat al-ankabut [29]
• Mengandung uraian tentang perdebatan dengan Ahli Kitab.
DAFTAR PUSTAKA
Badr Ad-Din Muhammad bin ‘Abdillah Az-Zarkasyi, Al- Burham Fi ‘Ulum Al-Qur’an Jilid I, hlm. 187; Jalaluddin As-Syuyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Dar Al-Filr, Beirut, tt, jilid I, hlm. 13-14; Al-Qaththan, Op. Cit. halm. 61
Manna’ Al-Qur’an Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadist, 1973.
Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Husni, Mutiara Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, terj. R Anwar, Pustaka Setia, Bandung, 1999, halm. 142-144
* KOMENTAR
Comments
0 Comments

No comments:

* AKHIR KOMENTAR

Post a Comment